Kaulinan.png
Read Time:1 Minute, 45 Second

TAMANSARI, PENAPUBLIK.COM – Puluhan mahasiswa London School of Public Relation (LSPR) Jakarta menggelar kegiatan community development atau sejenis KKN yang bekerja sama dengan berbagai elemen dan unsur kelembagaan serta warga masyarakat Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten termasuk dengan pelaku wisata Desa pada Sabtu (15/6/2024).

Sebagai tema dalam kegiatan tersebut adalah “Kaulinan Pasir Eurih” dimana didalamnya terdapat pesan moral dan muatan kearifan lokal berbasis masyarakat sebagai salah satu sarana edukasi di dunia pendidikan.

Selain itu, beberapa permainan tradisional tempo dulu sebagai warisan budaya sunda ditampilkan dalam helaran tersebut sekaligus juga turut mempromosikan berbagai produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari.

“Kaulinan Pasir Eurih bukan hanya acara seremonial saja, akan tetapi merupakan sebuah jembatan penghubung lintas generasi. Pesan moralnya adalah bagaimana upaya kita mampu merawat dan melestarikan akar budaya serta kearifan lokal sekaligus memupuk semangat kebersamaan masyarakat. Selain itu untuk berbagi kegembiraan dari berbagai permainan tradisional juga turut mendukung ekonomi lokal,” papar Raddina, Ketua pelaksana kegiatan.

Egrang Salah Satu Permainan Tradisional Tempo Dulu Turut Dikampanyekan Mahasiswa LSPR Jakarta.

Sebelum “Kaulinan Pasir Eurih” digelar kata Raddina, Beberapa rangkaian acara dilakukan oleh panitia penyelenggara yakni “Pasir Eurih Goes To School mengadakan kunjungan ke beberapa Sekolah Dasar sekaligus berinteraksi dengan siswa dan para pendidik.

“Setelah pra acara dan acara utama dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan kampanye melalui sosial media sebagai promosi dari Desa Pasir Eurih,” jelasnya.

Ditempat yang sama, Mikhael Yulius Cobis, Dekan Fakultas Komunikasi London School of Public Relations (LSPR) mengatakan bahwa dengan kegiatan tersebut setidaknya rekan-rekan mahasiswa mengenal dan sekaligus ikut mengkampanyekan serta mempromosikan salah satu warisan budaya dan kearifan lokal khususnya yang ada di tataran sunda.

“Iya, ini adalah hal yang menarik buat kami di dunia pendidikan, bagaimana caranya kami bisa mendukung program-program Pemerintah karena kami di LSPR ini terdapat dua Fakultas antara lain Fakultas Komunikasi dan Bisnis. Kita bisa lihat bahwa permainan tradisional tempo dulu selain unik tetapi didalamnya memiliki makna dan pesan moral mendalam yakni sikap kebersamaan masyarakat. Semoga hal itu masih bisa terjaga dan terawat meskipun saat ini jaman sudah serba canggih.” pungkasnya penuh ekspektasi. (Taufik/Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − eight =