Dampak-Keretakan-Tanah-Di-Kampung-Cijulang-Sukakarya-Sekolah-MI-Butuh-Uluran-Tangan-1.jpg
Read Time:2 Minute, 6 Second

MEGAMENDUNG,PENAPUBLIK.COM– Dampak dari pergeseran tanah dan longsor yang terjadi beberapa pekan lalu dikawasan wisata Puncak selain intensitas hujan yang cukup deras disertai angin yang melanda, Berakibat pada kerusakan dibeberapa rumah warga.

Seperti diwilayah Kampung Cijulang RT 03 RW 04, Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Akibat intensitas hujan yang deras disertai angin kencang yang terjadi pada Rabu petang dua pekan lalu itu beberapa atap rumah warga mengalami kerusakan.

Menurut Jumhari, Salah seorang Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kampung Cijulang RT 3 RW 04, Ia menuturkan bahwa rumahnya mengalami kerusakan yang sangat serius akibat longsor pada saat itu. Meskipun kejadiannya sudah berlalu, Namun Ia dan keluarganya merasa was-was dan khawatir serta trauma.

Jumhari, Kepala MI Amaliyah Kampung Cijulang Desa Sukakarya

“Waktu itu hujan deras terus menerus selama kurang lebih 1 minggu pada Tanggal 08 februari 2021, Nah pada pukul 05.00 WIB pagi teras belakang rumah saya mengalami kerusakan akibat longsor, Alhamdulillah sejauh ini ada yang dateng dari DPMD, Karang Taruna, Pramuka,” tutur Jumhari kepada PenaPublik, Sabtu (13/3).

Dengan segera dirinya melaporkan kejadian tersebut juga kepada pengawas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Meskipun awalnya ragu-ragu.

“Alhamdulillah pengawas dari Depag meninjau kelokasi untuk melihat kondisi bangunan yang tergerus longsor, Ada sumbangan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor melalui Pengawas Pendais dan KKMI Kecamatan Megamendung sebesar Rp 5 juta rupiah saya belikan untuk material dan kebutuhan alat bagunan, Juga dari Ketua KKRA Megamendung-Cisarua (Ibu Euis) sebesar Rp 1 juta dan hamba Allah. Saya ucapkan terima kasih banyak atas semua donasinya mudah-mudahan dibalas dengan berlipat ganda oleh Allah SWT,” papar Jumhari yang juga Kepala MI Amaliyah.

Secara kebetulan rumah yang didiami tersebut kata Jumhari berdampingan dengan sekolah MI Amaliyah yang didirikan pada tahun 1983 dan terakreditasi pada tahun 1987 silam.

Jumhari sedikit menceritakan bahwa saat ini jumlah yang menimba ilmu di MI Amaliyah sudah sekitar 70 siswa/siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan 20 siswa/paud. Sementara untuk sekolah warga di sini satu RW itu dibagi dua sekolahan,”Di wilayah RW di bagi menjadi lima RT ya segitu juga udah syukur alhamdulillah,” ungkapnya.

Dirinya masih merasa was-was jika suatu saat terjadi kejadian serupa terhadap ruangan lainnya, Ia berharap ada donatur yang mau membantu menyelesaikan untuk pembangunan di Sekolah MI tersebut.

“Jujur, saya masih khawatir apalagi dimusim penghujan tiba, ada longsor susulan yang bisa berdampak ke ruang lainnya karena masih ada keretakan-keretakan pada lantai sekolah. Mungkin karena kurang kokoh juga pondasi bangunannya sehingga sudah tidak kuat lagi menahan beban dan terkikis tergerus longsor.” pungkasnya penuh harap. (WAN/MUL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.