Berita_20200103055617_PenaPublik.jpg
Read Time:2 Minute, 46 Second

Bogor, PenaPublik.com – Pembukaan tahun 2020 sangat memprihatinkan, bagaimana tidak? dihari pertama kita disuguhi berita bencana banjir dan longsor dibeberapa titik wilayah. Bogor salah satu wilayah yang dituding sebagai penyebab banjir di Jadetabek.

Betul memang luapan air sungai yang hulunya di Bogor seperti Cisarua, Ciliwung, Cikeas, Cisadane dan Sungai-sungai lain yang hulu-nya berada di wilayah Bogor mengalir deras ke Jakarta dan sekitarnya sehingga menyebabkan banjir.

Kali ini bencananya cukup dahsyat hingga merenggut sejumlah nyawa yang tidak sedikit, Belum lagi harta benda yang rusak dan hilang. Tentu saja ini merupakan kerugian serta kehilangan besar.

Rasa prihatin, Nelangsa, Marah, Putus asa, kecewa dan semua ungkapan derita wajar terucap, apakah semua ini hal yang lumrah dan wajar? Tentu saja kita semua wajib menginsyafi gerangan apa salah dan dosa kita terhadap alam sehingga membuat alam murka.

Sebagai warga Bogor Muhamad Safwan atau akrab disapa sebagai Iwan mengungkapkan analisanya secara pribadi tentang penyebab semua fenomena mengerikan ini.

Menurutnya, hal yang harus disadari oleh setiap orang tentang semesta ini adalah tanggungjawab umat manusia.

“pertama yang harus kita pahami bersama bahwa sesungguhnya Allah SWT menciptakan alam semesta ini begitu sempurna dan seimbang pada awalnya. Kemudian hadirlah kita manusia yang sebenarnya sebagai petugas-Nya di muka bumi ini yang diberi tanggung jawab untuk merawat, menjaga dan memelihara bahkan seluruh alam semesta bukan cuma bumi,” jelasnya.

Lalu karena hal itulah kemudian yang terjadi hingga saat ini, sama sama di saksikan bencana melanda dan merenggut kebahagiaan umat manusia.

Iwan menjelaskan Apa yang salah, hingga bayak akibat terjadi pada bumi tempat tinggal umat manusia kini.

“Kita manusia yang salah, sebab kita telah gagal menjaga keseimbangan alam akibat keserakahan sebagian saudara kita. Gunung yang dulu rimbun kini digunduli, Hutan yang dulu perkasa kini sebagian rata bahkan menjadi pemukiman, kawasan industri perkebunan dan lain sebagainya,” tambahnya.

Sungai yang dulu jernih kini bersimbah sampah, sampah dari umat manusia. Bencana ini bukanlah ujian atau peringatan, Melainkan tamparan bagi dosa-dosa kita yang telah sangat sukses merusak keseimbangan alam.

Jangan tunggu bencana yang lebih besar lagi, Cukuplah bencana ini jadi cambuk untuk membangkitkan kesadaran. Cambuk yang membangunkan setiap orang dari tidur pulas dalam keterlenaan.

Sebuah ajakan penuh rasa prihatin dan kepedulian lingkungan disampaikan iwan melalui tulisannya.

“Mari sama-sama kita perbaiki kerusakan ini. Mari kita rimbunkan kembali hutan hutan dan gunung gunung kita. Mari kita asrikan dan jernihkan kembali sungai-sungai kita. Mari kembalikan kegemaran menanam kita yang sempat terampas oleh nafsu menebang. Hari ini dan kapanpun tidak akan ada waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Karena yang kita butuhkan adalah sama-sama memperbaiki diri. Kalau saja luapan air yang menyebabkan banjir itu mampu bicara tentu mereka akan bercerita kenapa mereka bisa jadi bencana?, pasti jawabannya karena rumah rumah mereka kita rusak terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka berunjuk rasa di wilayah kita, mari kita sama sama insyafi dosa-dosa ini,” ajaknya.

Dalam tulisan yang sengaja ia kirim kepada PenaPublik.com diakhiri sebuah doa dan harapannya kepada kondisi yang terjadi mengaawali tahun 2020 ini.

“Semoga saudara kita yang terdampak bencana segera mendapat pertolongan dan bantuan sehingga tidak mengundang bencana lainnya seperti kelaparan dan wabah penyakit. Ini salah kita..! Karenanya jadi tanggung jawab kita.” pungkasnya.

Muhamad syafwan atau Iwan Mei Chien adalah salah satu aktivis lingkungan yang aktif dalam sebuah komunitas Pegiat Peduli Lingkungan (Pepeling) dan salah satu putra daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan kemampuannya berinovasi dibidang pertanian.

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.