Cijeruk, PenaPublik.com – Sosok Santoso, Kepala Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor memang membuat penasaran banyak orang. Pasalnya saat itu Ia menjadi salah satu Kepala Desa yang berani mencalonkan dirinya sebagai Orang Nomor 1 di Bumi Tegar Beriman melalui jalur independen.

Meski keputusannya belum sampai hingga menjadi kandidat para calon Bupati di Bumi Tegar Beriman Ini, tetapi semangat yang melekat terhadap keinginannya dapat berbuat bagi masyarakat tetap tercermin pada beberapa capaiannya di kursi Kepala Desa.

Desa yang berada di wilayah selatan Kabupaten Bogor ini kian merasakan sentuhan segala kebijakan Santoso, terutama dalam bidang infrastruktur dan peningkatan daya wilayah untuk Ke 9 Rukun Warga (RW) didalamnya.

Salah satu yang saat ini menjadi prestasi melalui aksi kebijakan yang Ia keluarkan yakni, terkait pembukaan akses sebuah jalan di Kampung Sawah, Kampung yang tadinya sangat terisolir karena tiadanya akses langsung dari dan ke Jalan utama, membuat permasalahan tersebut dipilih untuk diselesaikan meski sumber daya Pemerintah Desa tidak mendukung sepenuhnya, terutama dalam hal keuangan.

Program pembukaan akses jalan lingkungan ini diawali dengan pembangunan jembatan ditahun 2014 lalu yang mana begitu dinanti-nantikan oleh warga sekitar, alhasil sebuah jembatan yang tadinya hanyalah tatanan bambu-bambu rentan disulap menjadi jembatan berkontruksi beton nan kokoh dengan kucuran dana Bantuan dari Provinsi (Banprov) Jawa Barat, bahkan target masyarakat yang tadinya hanya memiliki panjang 2 meter melalui upaya Pemerintahan yang dipimpinnya dibangun hingga 4 meter, sehingga memberi ruang cukup leluasa untuk melintas.

Hanya saja, 4 meter panjang jembatan tersebut kontras dengan kondisi jalan yang hanya berupa bahan pijakan untuk telapak kaki, kendaraan baik roda dua apalagi roda empat sama sekali tidak bisa melintas.

Potret jembatan KP. Sawah

Melihat potensi yang muncul dan bermodal telah bertenggernya sebuah jembatan tersebut, alhasil Santoso menginisiasi pertemuan kepada masyarakat sekitar lokasi untuk bermusyawarah dan melempar inisiatifnya untuk membuat sebuah jalan bagi warga Kampung Sawah, yang mana jalan akan membuka akses lebih dekat jika masyarakat akan menuju ke dan dari Kampung dengan penduduk sebagian besar berprofesi petani ini.

Kian permasalahan menimbulkan tantangan lebih berat, Jalan yang akan dibangun melintas diatas tanah-tanah pertanian milik warga. Tidak putus terhadap tantangan pembebasan lahan, kembali Ia memediasi semua elemen masyarakat terutama yang berkaitan dengan rencana pembukaan jalan baru itu.

Walhasil, yang didapat adalah sesuai harapan, kesediaan warga dengan kesadaran yang diketuk melalui sebuah musyawarah membawa lebih dari 40 orang pemilik tanah target lokasi dibukanya akses jalan baru secara sukarela menghibahkan tanahnya.

Sontak hal tersebut diakui membuat Santoso percaya bahwa jika hal baik diniatkan dengan sepenuh hati, maka semuanya akan dimudahkan.

Begitu pelaksanaan pembangunan hingga tahun 2018 nampak sebuah angka dana swadaya yang sangat fantastis, Lebih dari 80% didominasi oleh swadaya disamping pendanaan melalui APBDes sebesar Rp. 220. 054.751,- .

Sejumlah Rp. 390.000.000,- dikalkulasi dari nilai Partisipasi Ratusan warga bergantian dan bahu membahu mengerjakan dasar kontruksi jalan mulai dari menggali, meratakan tanah dilokasi dengan membelah dan menata batu-batu diatas tanah berwarna merah itu.

Sedangkan sumber swadaya yang didapatkan dari warga yang sukarela menghibahkan lahan tanahnya terinventarisir hingga mencapai angka Rp. 480.000.000,-

Saat ini Akhirnya terhitung nilai swadaya gotong royong dalam melancarkan pembangunan pembukaan jalan tersebut mencapai angka lebih dari 900 Juta Rupiah. Angka yang sangat besar untuk sebuah Desa di ujung perbatasan wilayah Kabupaten Bogor.

Mengerjakan sebuah pembangunan infrastruktur dengan segala keterbatasan daya di Anggaran Desa Sukaharja, Santoso menuturkan bahwa yang terpenting adalah kepedulian seorang Kepala Desa, maka pendekatan masyarakat yang terpenting.

Sambungan….

adalah kehadiran sosok Kepala Desa ditengah-tengah harapan masyarakat.

Sehingga Kekurangan Dana yang menjadi momok terbesar bagi banyak para pemimpin dapat terselesaikan oleh kekuatan partisipasi masyarakat yang dipimpinnya, melalui kekuatan swadaya yang disebut gotong royong.

“Yang terpenting itu kepedulian Kepala Desa, gimana caranya sigap hadir selesaikan kebutuhan masyarakat, saya orang pendatang disini awalnya, tapi bisa terpilih sebagai Kades karena saya mau mendengar keluh kesah warga,” jelasnya.

Pada akhirnya sebuah penghargaan didapatkan meski jalan yang direncanakan baru mencapai tahapan perataan dan pemasangan gorong-gorong. Penghargaan tersebut tersimbol dalam peringkat “Desa Terbaik untuk Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM)” tingkat Kabupaten Bogor.

“Belum selesai, tapi sekarang jalan sudah bisa dilintasi, apalagi kalau tidak hujan, kalau hujan mungkin agak licin karena masih tanah. Itulah, yang didapet dari Program Bulan Bakti Gotong Royong kayak piagam, piala ada, cuma kalau seperti bantuan dana gitu tidak,” terangnya.

Saat ini Dirinya tengah menjalani proses lanjut agar semangat masyarakat untuk bergotong royong dapat diapresiasi lebih lagi melalui Penghargaan BBGRM tingkat Provinsi Jawa Barat.

“Sekarang ini sedang disiapkan untuk diperlombakan pada kesempatan menjadi yang terbaik ditingkat Provinsi Jawa Barat, Kalau untuk selanjutnya sudah direncanakan nanti di tahun 2020 melalui APBDes mendatang,” tuturnya.

Diakhir perbincangan santoso membeberkan sebuah kalimat yang ia yakini dapat menjadi upaya bagi tercapainya sebuah Pemerintahan yang baik baginya.

“Jadi pemimpin itu harus yang membawa solusi bagi kebutuhan masyarakatnya secara sigap, agar dapat diakui masyarakat. Saya yakin kita harus mencintai hidup dengan segala solusinya.” pungkas Santoso.

Reporter : Adeas

Editor : Taufik Hidayat

Hits: 18

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × two =