Sebuah Curahan Hati Dalam Renungan Ramadhan
Read Time:1 Minute, 50 Second

Bogor, PenaPublik.com – Ini adalah tulisan sederhana yang mengalir begitu saja saat sebuah keprihatinan terhadap kisah tak tersurat satu keluarga terdampak bencana yang hingga kini masih belum maksimal tersentuh uluran tangan pemangku kebijakan, menjadi semakin menguat dan mendominasi sela-sela waktu berfikir seorang aktivis sekaligus pegiat sosial dan pewarta lokal di sebuah wilayah dengan gelora perkembangan perekonomian justru sangat bergeliat dan penuh potensi.

Taufik Hidayat, begitu ia menyandang nama dan berikut ia bersuara dalam kanvas keresahan dan berharap dapat dipahami orang yang membacanya.


Sebuah Goresan Pena dan Sepenggal cerita serta pengalaman hidup terkadang mengajarkan kita tentang bagaimana mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.

Kita Yang Munafik ini….

Jujur, sebenarnya saya malu kalau ikutan acara bukber.

Malu sama orang miskin yang di bulan puasa ini, kita sedang mencoba memahami kelaparan mereka, ketiadaan mereka.

Karena kita sedang berpura-pura menjadi mereka, tanpa sedikitpun menjadi mereka.

Kita berbuka dengan kemewahan, sedangkan mereka tetap seperti apa adanya.

Kita punya hari kemenangan, sedangkan mereka setiap hari merasakan kekalahan.

Kita hanya menjalankan perintah, sedangkan mereka menjalani kehidupannya.

Kita hanya menunda lapar kita, sedangkan lapar menjadi tarikan nafas hidup mereka setiap hari.

Bahkan kita lebih senang
menjalankan ritual tanpa peduli maknanya.

Kita lebih senang menyimpan uang untuk belanja makanan berbuka puasa, tanpa memikirkan berbagi rejeki pada mereka yang sedang tidak berpunya.

Saat Idul Fitri tiba, kita sibuk memamerkan apa yang kita punya pada keluarga, tanpa sedikit pun berfikir bahwa ada kepala keluarga yang bingung ketika anaknya bertanya,
“besok kita makan apa, pak?”

Lilin Adalah Kondisi Terbaik Untuk Malam Salah Satu Keluarga Sebuah Desa Di Kecamatan Cisarua, Pasca Terdampak Bencana Alam

Dan setiap tahun, saya selalu merasa kalah.
“Kalah oleh kemunafikan saya.”

Tidak ada sedikit pun yang bisa saya banggakan sebagai kemenangan.

Perkataan temanku yang beruntun itu, seperti mengingatkanku kembali
akan makna berpuasa yang hanya terdengar dalam mimbar-mimbar ceramah, dan menghilang ketika kaki beranjak pulang.

Manusia selalu menghibur dirinya sendiri bahwa sudah melakukan ibadah. Padahal sejatinya mereka hanya melakukan kewajiban belaka.

Tanpa ada perintah, bisa jadi manusia akan selalu lupa fungsi dirinya di dunia.

Masihkah kita harus terus seperti itu…?

Maafkan aku Kawan…

 

 

Penulis : Adeas

Sumber : Taufik Hidayat (PenaPublik.com dan Komunitas Pegiat Peduli Lingkungan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − one =